Cimahi, BewaraMedia – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Cimahi menggagas sebuah terobosan inovatif bertajuk PERISAI API (Peningkatan Efektivitas Relawan Bersinergi dalam Aksi Pelayanan di Era Efisiensi Aman, Peduli, dan Inovatif). Gagasan yang digawangi oleh Kepala Bidang Pemadam Kebakaran, Achmad Suparlan, ini dirancang sebagai solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi dalam sistem pelayanan kebakaran dan penyelamatan di Kota Cimahi.
Dalam paparannya, Suparlan menyoroti bahwa meskipun relawan kebencanaan di Cimahi sudah terbentuk melalui komunitas dan forum, keterlibatan mereka secara khusus dalam penanggulangan kebakaran belum terintegrasi optimal dengan sistem resmi Dinas Damkar. Banyak kendala ditemukan, mulai dari belum adanya standar kompetensi dan SOP pelibatan relawan, minimnya fasilitas pelatihan, hingga keterbatasan teknologi komunikasi.
Melalui pendekatan PESTEL dan McKinsey 7S Framework, Suparlan mengidentifikasi akar persoalan dalam struktur, strategi, sistem, sumber daya manusia, dan nilai organisasi. Ia juga menyusun analisis Fishbone dan GAP yang menunjukkan perlunya reformasi struktural, penguatan kolaborasi, dan inovasi sistemik.
PERISAI API hadir dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis komunitas. Fokusnya mencakup:
- Pembentukan struktur kelembagaan relawan dalam skema formal pemerintah
- Peningkatan kompetensi melalui pelatihan dasar dan buku saku
- Digitalisasi pelaporan dan koordinasi
- Mendorong gaya kepemimpinan yang komunikatif dan inovatif
- Membangun sinergi dengan masyarakat, dunia usaha, media lokal, hingga stakeholder lintas OPD
Program ini dijalankan secara bertahap dalam tiga fase: jangka pendek (1 tahun), menengah (2–3 tahun), dan panjang (3–5 tahun). Fase awal mencakup penyusunan SOP, pemetaan potensi relawan, pelatihan dasar, simulasi tugas, dan publikasi.
Milestone dan Indikator Capaian
Jangka Pendek:
- Terbentuknya tim relawan di tiga kelurahan rawan
- SOP pelibatan relawan tersusun
- Buku saku dan pelatihan gelombang pertama terlaksana
Jangka Menengah:
- 50% penanganan lokal melibatkan relawan
- Sistem pelaporan digital terintegrasi
- Minimal 15 kelurahan memiliki relawan aktif
Jangka Panjang:
- Terbitnya regulasi resmi pengelolaan relawan (Perwal/SK)
- Rata-rata response time menurun <15 menit di area relawan aktif
- Meningkatnya indeks partisipasi masyarakat








