Bandung, Bewaramedia -Dalam suasana akrab dan hangat , tokoh budaya Sunda, Abah Alam, menyerahkan sebuah Kujang Mardika kepada Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Bin Zein, di Purwakarta.
Penyerahan dilakukan secara sederhana di Purwakarta, tanpa seremoni mewah maupun liputan media besar. Namun bagi Abah Alam yang juga selaku Pembina Jurnalis Bela Negara (JBN), momen tersebut sarat makna. Kujang yang diberikan bukanlah pusaka bertuah, melainkan replika kujang mardika buatan tangan lokal lima tahun lalu, dibuat secara swadaya dan tanpa pendanaan dari negara.
“Ini bukan soal mistis, bukan kujang bertuah. Ini soal momen dan panggilan hati,” ujar Abah Alam Sabtu, 02 Agustus 2025.
Abah Alam, atau Adhitya Alamsyah, menyebut penyerahan kujang ini sebagai bentuk penghormatan atas pribadi dan kepemimpinan Om Zein yang ia nilai santun dan beradab.
“Abah masih ingat, pernah Om Zein mendorong kursi roda abah. Bukan soal besar kecilnya bantuan, tapi beliau itu tahu etika, lemah lembut, dan punya rasa,” tutur Abah.
Pemberian kujang ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-194 Kota Purwakarta dan Hari Jadi ke-57 Kabupaten Purwakarta. Sebuah momentum yang menurut Abah Alam layak merayakannya dengan tindakan bermakna.
“Mudah-mudahan kujang ini bisa jadi pengingat agar Om Zein terus membawa nilai-nilai kebaikan dalam kepemimpinannya. Karena Purwakarta ini punya banyak cerita, yang belum semua tertulis di buku,” ujarnya.
Dalam kesempatan berbeda, pada Rabu 30 Juli 2025 lalu, suasana sakral menyelimuti Gedung Negara, Kompleks Pemkab Purwakarta, ketika Bupati Saepul Bahri Binzein secara resmi menerima kujang dari Keluarga Kewargian Abah Alam. Hadir dalam acara tersebut Dandim 0619/Purwakarta, Letkol Inf Ardha Cairova Pari Putra, dan Sekda Purwakarta, Norman Nugraha.
Kujang Simbol Dukungan Spiritual
Abah Alam menegaskan, penyerahan kujang ini merupakan simbol dukungan spiritual dan pengingat akan pentingnya menjaga budaya dalam pemerintahan.
“Kujang ini bukan hanya simbol. Ia adalah pengingat bahwa memimpin itu bukan sekadar kekuasaan. Tapi menjaga harmoni dan budaya warisan leluhur,” terang Abah Alam.
Sebagai tokoh budaya Sunda, Abah Alam adalah sosok yang luas atas kiprahnya dalam pelestarian seni dan tradisi leluhur. Melalui sanggarnya, ia aktif menghidupkan kembali berbagai kesenian seperti tari Jaipongan dan Longser, serta rutin terlibat dalam kegiatan budaya lainnya termasuk Hari Masyarakat Adat Internasional.






