Meranti, Bewaramedia – Hari Listrik Nasional sejatinya jadi momentum refleksi atas kemajuan bangsa dalam memperkenalkan tenaga yang andal serta menyeluruh untuk rakyat Indonesia.
Ironisnya, sebagian hari saat sebelum peringatan itu, Selatpanjang di Kepulauan Meranti malah diselimuti kegelapan bukan sebab malam, melainkan sebab listrik yang terus padam tanpa kepastian.
Dirilis dari Kabaran. id, ratusan masyarakat juga turun ke jalur menuntut keadilan.
Pemadaman yang terjadi dikala Salat Jumat serta Magrib menggambarkan betapa rapuhnya sistem kelistrikan di wilayah tersebut.
Kegiatan ekonomi lumpuh, ibadah tersendat, serta rumah- rumah gelap jadi simbol nyata kalau janji pelayanan PLN masih jauh dari realitas.
Listrik bukan semata- mata sumber sinar, melainkan nadi kehidupan warga modern dari dapur, sekolah, sampai rumah ibadah.
Kala pasokan terputus tanpa solusi konkret, yang padam bukan cuma arus listrik, tetapi pula keyakinan publik terhadap lembaga penyedia layanan.
Fenomena di Selatpanjang bukan salah satunya. Dari Sumatera sampai Indonesia Timur, keluhan seragam menggema: jaringan lemah, mesin tua, sampai lambannya respons revisi.
Warga kembali jadi korban, terjebak dalam hitam sembari menunggu janji normalisasi yang tidak kunjung tentu.
Menjelang Hari Listrik Nasional, telah sepatutnya PLN serta pemerintah menjadikan momen ini selaku ajang introspeksi nasional.
Semangat“ menerangi negara” tidak lumayan cuma terpampang di spanduk perayaan, namun wajib diwujudkan lewat pemerataan layanan serta transparansi data.
Penilaian terbuka mesti dicoba, mulai dari pasokan bahan bakar, perawatan mesin pembangkit, sampai agenda pemadaman yang jujur serta terencana.
Publik berhak ketahui apa yang sesungguhnya terjalin, bukan semata- mata mendengar janji pemulihan yang terus diundur.
Tenaga listrik merupakan hak bawah masyarakat negeri, bukan sarana yang boleh diputuskan semaunya.
Hingga, membetulkan sistem kelistrikan bukan cuma tugas teknis, namun pula wujud tanggung jawab moral terhadap rakyat.
Hari Listrik Nasional hendak betul- betul bermakna bila disambut dengan langkah nyata membenarkan tiap rumah di Indonesia, dari kota sampai pelosok, tidak lagi hidup dalam ketidakpastian sinar.
Kepala ULP PLN Selatpanjang dituntut Mundur
Salah satu masyarakat Selatpanjang yang enggan disebutkan namanya mengatakan rasa kekecewaan.
“ Tiap hari kami wajib menduga kapan listrik menyala. Jika terus begini, buat apa terdapat Hari Listrik Nasional?”, tegasnya, pada Jumat( 24/ 10/ 2025).
Kondisi ini turut mendapat perhatian dari Ketua DPD Team Libas Kabupaten Kepulauan Meranti, T. L. Sahanry, S.Pd, CFLE, CPLA. Ia dengan tegas mengecam kinerja PLN ULP Selatpanjang yang dinilai tidak mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Menurutnya, jika Kepala ULP PLN Selatpanjang, Dalie Priasmoro, tidak sanggup menuntaskan persoalan pemadaman listrik yang kian meresahkan, maka sebaiknya mengundurkan diri dari jabatannya.
“Kalau Kepala ULP PLN Selatpanjang tidak sanggup mengatasi persoalan ini, silakan angkat kaki dari Kota Sagu. Ganti dengan yang lebih mampu. Jangan sampai rakyat kembali turun ke kantor PLN seperti 11 tahun yang lalu,” tegas Sahanry.***






